23.4 C
Indonesia
Sen, 11 Desember 2023
close

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

23.4 C
Indonesia
Senin, 11 Desember 2023 | 9:06:05 WIB

    Gerakan Cinta Rupiah

    spot_img
    Getar atau gerakan-gerakan lain yang menyiratkan rasa cinta tanah air, tampaknya perlu didukung oleh semua pihak dan dilaksanakan secara berkelanjutan. Karena bila sifatnya hanya bermakna simbolis-politis, Getar tidak lebih dari gerakan semu yang tidak akan membawa perubahan apapun. Jangan harap Indonesia akan keluar dari gejolak moneter dan krisis kepercayaan bila upaya yang dilakukan kaum elit negeri ini hanya bersifat sloganistis, sementara implementasinya amat jauh dari tataran ideal”

    VOA | Ketika rakyat Korsel menukarkan dolarnya menjadi won, pada saat masyarakat Taiwan menyumbangkan emasnya kepada pemerintah sebagai cadangan devisa, dan manakala rakyat Thailand menyatukan langkah menggelar program Thai Help Thai, kita bertanya-tanya, mungkinkah rakyat Indonesia menyatukan napasnya untuk mengatasi gejolak moneter yang terus berkepanjangan?

    Alhamdulillah, keraguan itu terhapus dengan adanya Gerakan Cinta Rupiah (Getar) yang kemarin menghiasi halaman muka dan headline seluruh media massa di Indonesia. Menteri, anggota DPR/MPR, pejabat pemerintah, pengusaha, ulama, dan termasuk wartawan, beramai-ramai menukarkan dolar yang dimilikinya ke dalam kurs rupiah. Boleh jadi, jika dihitung dengan angka, jumlah USD 650 ribu yang ditukarkan tidaklah terlalu besar, namun secara psikologis, kejadian ini membawa angin segar untuk membawa Indonesia keluar dari lingkaran kemelut yang masih terus terjadi.

    Baca juga:  Nilai Tukar Rupiah Sangat Memprihatinkan

    Sejalan dengan kemunculan Getar, berbagai jenis gerakan menggugah lainnya pun dikeluarkan, yakni Gerakan Cinta Produk Dalam Negeri, Gerakan Cinta Menabung dan Pola Hidup Sederhana. Namun tentu saja, kita tidak boleh merasa berpuas diri dengan kemunculan gerakan-gerakan ini, karena memang sejauh ini belum membawa dampak seperti yang diharapkan. Buktinya, antara lain, rupiah masih belum mampu keluar dari terminologi “terpuruk”. Begitu pula harga-harga kebutuhan masyarakat masih menunjukkan gejala eskalasi.

    Sekadar mengingatkan, hampir sepekan lalu, kita menyaksikan peristiwa yang benar-benar menyayat nurani kita. Semua menyangka, antrian orang untuk mendapatkan bahan-bahan pokok hanya terjadi pada masa lalu, dan tak akan mungkin menimpa negara kita yang disebut-sebut sebagai kawasan gemah ripah loh jinawi.

    Baca juga:  Nilai Tukar Rupiah Sangat Memprihatinkan

    Betapa menggenaskan ketika menyaksikan rak-rak bahan makanan pokok yang biasanya selalu tersedia dalam jumlah besar di berbagai pusat perbelanjaan, ternyata hanya tinggal onggokan kertas bertuliskan harga. Ironis, manakala kelangkaan makanan pokok ini sampai menyebabkan dua orang berkelahi memperebutkan sebungkus gula 2 kilograman di sebuah pusat perkulakan.

    Akankah ini terjadi lagi? Wallahualam. Yang jelas, peristiwa ini harus menjadi bahan pelajaran yang berharga bagi semua pihak. Seperti dikemukakan oleh Presiden, kita pernah mengalami masa yang lebih sulit dari ini, dan toh, mampu melepaskan diri.

    Benarlah apa yang dikemukakan da’i sejuta umat, KH. Zaenudin MZ, di Lapangan Gasibu, belum lama ini, bahwa baik-buruknya keadaan bangsa saat ini dan masa mendatang, sangat ditentukan oleh masyarakat Indonesia sendiri. Bukan IMF, tidak Amerika, atau lembaga-lembaga mapan lainnya. Ini tentu bukan sikap apriori terhadap kemungkinan uluran tangan mereka, namun kita harus sadari, apa yang mereka lakukan tentu dengan tujuan dan sasaran strategis tertentu serta bersifat temporer. Sementara yang hidup di bumi Indonesia, menghirup udara republik ini, adalah masyarakat Indonesia sendiri.

    Baca juga:  Nilai Tukar Rupiah Sangat Memprihatinkan

    Getar atau gerakan-gerakan lain yang menyiratkan rasa cinta tanah air, tampaknya perlu didukung oleh semua pihak dan dilaksanakan secara berkelanjutan. Karena bila sifatnya hanya bermakna simbolis-politis, Getar tidak lebih dari gerakan semu yang tidak akan membawa perubahan apapun. Jangan harap Indonesia akan keluar dari gejolak moneter dan krisis kepercayaan bila upaya yang dilakukan kaum elit negeri ini hanya bersifat sloganistis, sementara implementasinya amat jauh dari tataran ideal. (red)

    spot_img

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    Berita Terpopuler

    eSIM XL Tidak Ada Layanan, Solusi Mengatasinya

    Di era digital ini, kemajuan teknologi semakin memudahkan kita dalam berkomunikasi dan berselancar di dunia maya. Salah satu perkembangan terbaru adalah penggunaan eSIM, yang...

    La Ode Darwin Beri Bantuan Untuk Perbaikan Jembatan Titian Pulau Simuang di Desa Tasipi

    MUBAR | VoA - Bakal calon Bupati Muna Barat (Mubar), La Ode Darwin memberikan bantuan sebesar 25juta Rupiah, untuk perbaikan jembatan Titian Simuang di...

    Pawang Ular di Sumedang Meninggal Akibat Gigitan King Kobra Setelah Pertunjukan

    Sumedang | VoA - Pawang Ular di Kabupaten Sumedang, telah meninggal dunia Akibat Gigitan King Kobra Setelah Pertunjukan. Insiden ini terjadi saat ia sedang...

    Keren! Politisi Senior PKS Ini Raih Gelar Doktor Ilmu Pendidikan Uninus Bandung

    Depok | VoA - Dunia pendidikan merupakan perjalanan panjang yang penuh liku-liku, dan ini merupakan bukti dari tekad dan perjuangan yang tak kenal lelah....

    La Ode Darwin Paparkan Solusi Terkait Dua Masalah Prioritas Masyarakat Pulau Jika Terpilih Jadi Bupati Mubar

    MUBAR | VoA - Bakal Calon Bupati Muna Barat La Ode Darwin melakukan sosialisasi di wilayah Kepulauan Muna Barat guna untuk menemui warga serta...

    Penyelidikan Mendalam Polres Puncak Tengah Terhadap Insiden Penyerangan KKB di Pasar Tradisional Ilaga

    Jayapura | VoA - Polres Puncak Tengah, tengah mengusut insiden penyerangan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di wilayah Kompleks Pasar Tradisional Ilaga, Kabupaten Puncak....
    Berita terbaru
    Berita Terkait